Rabu, 19 November 2008

"Buku Hidup" Bambang Harsrinuksmo

P U S A T I N F O R M A S I K O M P A S
Palmerah Selatan 26 - 28 Jakarta 10270
Telp. 5347710, 5347720, 5347730, 5302200 Fax. 5347743
===========================================
KOMPAS, Kamis, 10-10-2002. Halaman: 12

"BUKU HIDUP" BAMBANG HARSRINUKSMO

Oleh Jimmy S Harianto

SELAMA 19 tahun terakhir, Bambang Harsrinuksmo hidup sepenuhnya dari menulis buku. Ia memang pernah bekerja sebagai wartawan selama 23 tahun sebelum akhirnya mencurahkan seluruh perhatiannya untuk menulis buku sejak tahun 1983.

Salah satu prestasinya yang spektakuler adalah (hampir) secara sendirian menyusun serta menulis enam volume buku Ensiklopedi Wayang terbitan Yayasan Senawangi, lebih dari 3.000 halaman, yang merupakan simpul dari hasil karyanya selama 11 tahun sejak 1989. Sungguh, ia sama sekali sendirian dalam membikinnya: sejak mengumpulkan data, wawancara, mengetiknya dalam komputer, membikin layout-nya, sampai memilih ilustrasinya, bahkan ikut pula memasarkannya.

Kaya dari buku? Ternyata tidak demikian. Untuk 1.000 set Ensiklopedi Wayang, yang seharga Rp 3,2 juta itu, misalnya, ternyata ia hanya menerima honor Rp 60 juta.

"Jika dihitung honor saya, Rp 60 juta selama 11 tahun, berarti setahun saya mendapat kurang dari Rp 6 juta, atau kurang dari Rp 500.000 per bulan. Untuk hidup dengan keluarga (di Jakarta), jelas tak cukup," kata pria beranak dua, kelahiran Manisrenggo, Klaten (Jawa Tengah), 59 tahun lalu itu.

Oleh karena periuk nasi harus mengepul setiap hari, maka Harsrinuksmo juga membikin buku-buku "murah" yang laku di pasaran, berupa buku-buku tentang budaya Jawa lainnya, yakni buku-buku tentang budaya keris.

Ada setidaknya lima judul buku tentang budaya keris yang laris di pasaran, di samping juga kini ia tengah menyelesaikan tahap akhir buku "trilogi" keris, serta tiga buku praktis lain menyangkut dunia perkerisan.

Bukunya berjudul Dapur Keris (menceritakan berbagai bentuk keris, terbitan Pusat Keris Jakarta 1981), sudah dicetak ulang tiga kali, masing-masing 3.000 eksemplar. Buku tentang Pamor Keris, tahun 1983, juga empat kali dicetak ulang, dengan total eksemplar 12.000. Atau Tanya Jawab Soal Keris tahun 1983, yang juga mengalami empat kali cetak ulang, masing-masing 3.000 eksemplar.

Sedangkan bukunya, Mengungkap Rahasia Isi Keris terbitan Pustaka Grafikatama 1986, dicetak ulang tiga kali sehingga total eksemplarnya 9.000 buah. Satu-satunya yang "kurang laku" hanyalah Cara Praktis Merawat Keris terbitan Pusat Keris Jakarta, yang hanya mengalami satu kali cetak, 3.000 eksemplar.

Bukunya yang paling populer, dan kini bahkan menjadi semacam "pegangan" bagi para kolektor keris, Ensiklopedi Budaya Nasional, tak henti-henti "dibajak" para kolektor untuk difotokopi gratisan. Buku ini penyebarannya tidak hanya di Jakarta, tetapi juga di luar Jakarta, dan bahkan di luar negeri. Meski berbahasa Indonesia, buku ini menjadi salah satu acuan utama kolektor keris di luar negeri seperti Belanda, Amerika, Australia, dan juga Malaysia.

Di mata para kolektor keris, Bambang Harsrinuksmo tidak lagi sekadar dipandang "hidup dari buku keris", tetapi adalah "buku hidup" keris itu sendiri. Nyatanya, situs web yang dibikinnya, www.javakeris.com, sudah diakses ribuan surfer Internet.

"Setiap minggu, setidaknya saya harus menjawab berbagai pertanyaan para anggota mailing-list, termasuk yang dari Amerika dan Australia," kata Bambang Harsrinuksmo, yang mantan wartawan Berita Indonesia, Berita Yudha, dan Buana Minggu tahun 1960-1983 ini pula.
***
NAMUN, Bambang Harsrinuksmo ternyata "belum hidup dari buku". Ketika ia jatuh sakit keras pada tahun 1996, dan masuk rumah sakit sekitar dua bulan dan nyaris lumpuh, ia terpaksa harus menjual dua mobil tuanya, demi menutup biaya perawatan, serta biaya hidup sehari-hari. Mobilnya Chevrolet Luv bikinan 1981, laku Rp 2 juta, sementara Ford Cortina-nya laku Rp 6 juta, buat biaya rumah sakit.

"Tabungan saya juga habis terkuras karena biaya rumah sakit mencapai Rp 18 juta. Untung, teman-teman saya membantu meringankannya," kata Bambang, yang tubuhnya jadi kurus kering. Bobotnya turun dari semula 70 kg menjadi hanya 46 kg padahal bertinggi 1,73 meter.

Yang paling menyakitkan, demikian menurut Bambang, istrinya pernah menangisi buku-bukunya yang dijual kiloan. Buku-buku itu sudah selesai dicetak, tetapi belum punya sampul. Buku-buku berharga seberat 80 kg itu terpaksa dijual kiloan, hanya untuk menyambung hidup, "untuk uang sayur" menurut istilah Bambang. Sampai kini pun, Bambang Harsrinuksmo masih tetap hidup sederhana di rumahnya, di Kompleks PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) di Cipinang, Jakarta Timur.
***
KALAU toh ia kini menjadi penulis buku keris yang laris, mulanya dulu ia berangkat dari rasa kemropok (jengkel), melihat buku-buku keris sebagian besar ditulis oleh orang-orang asing. "Masak, anak-anak kita harus membaca buku-buku keris, buku-buku budaya sendiri dari orang asing?" ungkap Bambang Harsrinuksmo.

Kalau toh ada, ia melihat buku-buku keris itu tidak ditulis dengan serius, kalah dibanding buku buatan orang Barat. Demikian pula buku tentang wayang. "Belum pernah ada orang yang membikin buku wayang secara komprehensif," katanya pula. Alhasil, ensiklopedinya tentang dunia pewayangan yang diterbitkan dalam edisi cukup luks itu merupakan buku wayang terkomplet yang ada saat ini dan mudah dimengerti.

Badannya yang sakit-sakitan (belum lama ini ia juga jatuh sakit seperti enam tahun silam) memaksa istrinya, Agustine Sri Kusumowati, harus menyambung hidup dengan menjahit, untuk tambahan biaya rumah tangga.

Beruntung, kata Bambang, kedua anak mereka sudah bekerja. Sasanti Handayani kini bekerja di majalah Kosmopolitan, sementara anak lelakinya, Soni Pradjaka, bekerja di sebuah biro iklan. Sesekali, Bambang mengaku masih suka "menjual koran kiloan" demi menyambung hidup. Terlahir dari sebuah keluarga Angkatan Laut (ayahnya, seorang pegawai sipil Angkatan Laut), Bambang menuruni bakat menulisnya dari sang kakek, R Moestopo Pringgohardjo. Bahkan, banyak buku-buku manuskrip kakeknya yang kini menjadi salah satu buku babon (acuan) buku-buku kerisnya.

Dan yang menjadi dorongan terkuat baginya untuk menulis buku-buku budaya Indonesia, alasannya itu tadi, lebih banyak buku-buku bikinan orang Barat yang justru menjadi buku pegangan orang-orang Indonesia. Mengapa tidak dimulai saja menulis sendiri buku-buku tentang budaya kita?

(Jimmy S Harianto, atau Ganjawulung adalah wartawan Kompas)

Tidak ada komentar: