Rabu, 19 November 2008

MENELITI Logam Pada Bilah Keris

P U S A T I N F O R M A S I K O M P A S
Palmerah Selatan 26 - 28 Jakarta 10270
Telp. 5347710, 5347720, 5347730, 5302200 Fax. 5347743
===========================================
KOMPAS, Rabu, 21-08-1996. Halaman: 22

Tinjauan Buku
MENELITI LOGAM PADA BILAH KERIS
Jerzy Piaskowski/Alan Maisey/Technology of Early Indonesian Keris (Warsawa: The Asia and Pacific Museum 1995)

Oleh Jimmy S Harianto

KERIS sebagai hasil budaya yang khas Indonesia, sudah banyak buku yang membahas. Akan tetapi keris diteliti secara ilmiah dari sisi teknologi metalurgi, tidak banyak yang mengungkap.

Buku terbitan The Asia and Pacific Museum di Warsawa, Polandia dalam rangka ikut menghormati peringatan 50 Tahun Indonesia Merdeka itu sebenarnya lebih tepat disebut sebagai buku laporan hasil penelitian Jerzy Piaskowski, ahli metalurgi lulusan Universitas Jagiellonian, Krakow, Polandia. Di samping bekerja pada sebuah institut metalurgi fisika yang banyak meneliti teknologi-teknologi logam kuno, ia adalah juga ahli matematika, fisika dan kimia lulusan universitas yang sama.

Sedangkan Alan Maisey, yang asal Sydney, Australia, dan mempelajari keris Jawa sejak 1970 serta pernah berguru pada mendiang empu Kraton Solo, Suparman, adalah produser senjata-bilah berpamor (bergurat gambar, nuansa warna berbagai jenis logam) dengan teknologi pamor Asia Tenggara.

Tidak seperti halnya penelitian-penelitian sebelumnya, maka Piaskowski kali ini hanya khusus meneliti teknik metalurgi dari pembuatan "ganja" (besi melintang, berlubang di tengah, menempel di bagian bawah bilah keris). Penelitian sebelum ini, yang di antaranya dilakukan Laboratorium Kebun Raya Bogor pada tahun 1930-an, atau sarjana nuklir dari University of California, Dr Frankle pada tahun 1960-an serta juga ahli atom asli Indonesia, Haryono Arumbinang MSc dan kawan-kawan pada tahun 1983 di Batan (Badan Tenaga Atom Nasional) Yogyakarta, kesemuanya hanya meneliti bilah kerisnya, tidak secara khusus mengamati ganjanya.

Piaskowski yang juga penulis buku seni pamor On the Damascus Steel ini mengklaim, penelitian ganja secara terpisah dari bilah keris, seperti yang dilakukannya kali ini, adalah yang pertama di dunia. Penelitian bilah keris dengan metode metalografik sebelum ini pernah dilakukan Jacobsen (1937), Panseri (1962), Bronson (1987). Piaskowski sendiri pun sebelumnya pernah meneliti sisi metalurgi bilah keris, pada tahun 1975 dan 1992.

Selain kepadatan logamnya, juga kandungan unsur di dalam ganja keris menurut hasil temuan Piaskowski, sangat berbeda dengan yang ada di bilahnya. Di samping lebih banyak mengandung besi-fosfor, ada di antara delapan ganja keris kuno yang ditelitinya terdiri dari besi yang agak lunak namun tahan getaran, tetapi ada juga yang mengandung besi keras.

Dari penelitian ganja ini pula, Piaskowski mendapati, bahwa jenis pamor samar-samar yang selama ini disebut-sebut orang Jawa sebagai "pamor sanak" (bukan pamor yang byor), mengandung unsur arsenikum dan fosfor dalam konsentrasi tinggi.

Perbedaan komposisi unsur di dalam ganja ini, menurut Piaskowski, juga menunjukkan bahwa dari sisi metalurginya, metode pembuatan ganja sangat berbeda dengan bilah kerisnya. Untuk meneliti kandungan fosfor, Piaskowski memakai metode fotometrik, sedangkan kandungan mangan ia gunakan absorbsi atomik. Kandungan karbon, didasarkan atas pengamatan struktur metal di bawah mikroskop Neophot 32. Ia juga menggunakan reagent Nital dan Oberhoffer dalam meneliti struktur logam delapan ganja keris Indonesia yang diperkirakan dari zaman Mataram tersebut.

Penemuan Piaskowski ini tentunya melengkapi penemuan ahli Indonesia, Haryono Arumbinang dan kawan-kawan pada tahun 1983. Dengan metode tak merusak, secara pendar sinar X, Haryono dkk meneliti 8 bilah keris, 5 tombak dan sebuah pedang. Dari 14 tosan aji yang diperkirakan berasal dari zaman Mataram (abad 14-15) itu, 13 di antaranya ditemukan mengandung unsur titanium - jenis logam yang pada zaman modern ini baru dipergunakan untuk peralatan-peralatan ruang angkasa sejak 80-an.

Penemuan unsur titanium di dalam bilah keris oleh Haryono dkk tentunya merupakan hal baru, karena selama ini peneliti-peneliti Eropa dan juga Amerika biasanya hanya menyebutkan unsur nikel untuk mengurai unsur cemerlang dalam pamor keris.

Dari buku Piaskowski dan Alan Maisey -yang hanya 22 halaman- dan dicetak sederhana, terungkap pula bahwa di Museum Asia Pasifik di Warsawa itu kini tersimpan 166 bilah keris Indonesia, serta 144 macam senjata tradisional Indonesia lain seperti badik, golok, klewang, kujang, lading, mandau, parang, pedang, tumbak, wedung dan juga jenis "pisau-pisau jimat". Senjata-senjata itu berasal dari Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Bali, Flores dan Madura.
Di antara sekian banyak koleksi, ada di antaranya dua bilah keris yang konon dulu dibikin untuk pengelana dari Cina, diplomat Cheng Ho. Disamping itu, masih ada belasan lagi koleksi keris yang diduga tangguh Majapahit abad 14-15.

Koleksi dari Museum Asia Pasifik di Warsawa itu, dulu berasal dari koleksi pribadi Andrzej Wawrzyniak, seorang diplomat yang pernah tinggal menetap di Indonesia antara tahun 1961-1965 dan 1967-1971.

Dan kegilaan Wawrzyniak akan Indonesia bermula ketika ia menjadi atase kebudayaan Kedubes Polandia di Jakarta. Ia bahkan menyatakan diri sebagai "kolektor benda Indonesia terbesar" di dunia. Benda-benda antik asal Indonesia yang dimilikinya berjumlah tak kurang dari 4.000 jenis.

Dan sejak 1973, Wawrzyniak yang pernah tinggal di Vietnam dan jadi dubes di Afghanistan, menyerahkan lebih dari 15.000 benda antik dari Asia kepada pemerintah Polandia. Sebagai balas jasanya, Wawrzyniak diangkat sebagai direktur dan kurator museum Asia dan Pasifik di Warsawa yang dirintisnya tersebut untuk "masa jabatan" seumur hidup.

(Jimmy S Harianto, atau Ganjawulung adalah wartawan Kompas)

Tidak ada komentar: