Rabu, 19 November 2008

Hobi dan Komunitas Keris

P U S A T I N F O R M A S I K O M P A S
Palmerah Selatan 26 - 28 Jakarta 10270
Telp. 5347710, 5347720, 5347730, 5302200 Fax. 5347743
===========================================
KOMPAS, Minggu, 18-03-2007. Halaman: 24

Hobi dan Komunitas Keris
KEUNIKAN DAN MITOSNYA DISUKAI

Oleh Jimmy S Harianto

Bagi sebagian penggemarnya, benda budaya bernama keris ini sering dikaitkan dengan berbagai mitos. Dari kisah perjalanan hidup pribadi pemiliknya, sampai kisah "sejarah" dan legenda seputar keberadaan benda itu sendiri.

Sebut saja Martono. Pengusaha kain yang tinggal di kawasan Ragunan, Pasar Minggu, ini memiliki berbagai kisah perjalanan hidup, berkaitan dengan seribuan bilah keris yang dimiliki. Kedekatan dirinya dengan keris-keris miliknya mendatangkan berbagai "kebetulan" yang menguntungkan.

Awal tahun 1988, Martono mengaku ditipu habis-habisan seorang pedagang Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat. Dagangan kainnya sebanyak satu mobil minibus dibayar dengan sebuah cek kosong. "Cek itu sampai sekarang masih saya simpan. Tetapi orang yang menipu saya itu sekarang sudah pada meninggal," ungkap Martono.

Rasa frustrasi karena jatuh terpuruk waktu itu sempat membuatnya merasa putus asa. "Saya pacu mobil kencang-kencang di Jalan Jenderal Sudirman. Waktu itu saya ingin bunuh diri, tetapi selamat terus," kata Martono. Lebih dari 10 paranormal menasihatinya, namun dia tetap merasa terpuruk.

Akhirnya Martono dibangkitkan semangatnya oleh orang yang berniat meminjaminya uang untuk modal. Ini pun ditolaknya. Orang itu mengatakan, bila dia bisa mengatasi kesulitannya saat ini, maka hidupnya kelak akan nyaman. Martono pun berusaha lagi sepenuh kemampuan diri, sambil memperbaiki kebiasaan-kebiasaan buruknya.

"Dulu, bangun tidur saya menghitung duit, mau tidur juga menghitung duit. Barang kali saat itu saya kurang amal. Saya kini lalu berniat, lebih baik banyak beramal," kata Martono. Sambil berusaha dan beramal, Martono ingat kegemaran ayahnya dulu, yang memiliki banyak keris. Mulailah Martono mengumpulkan keris, bukan untuk dijual-belikan. "Untuk dicari sabda baik dari pembuat kerisnya," ucap Martono.

Cerita "kebetulan yang menguntungkan" mulai bergulir seputar keris dan usaha kainnya. Dari semula terpuruk, Martono yang kini suka mengumpulkan keris itu bisa membeli sebidang tanah seluas 700 meter persegi di kawasan Ragunan yang waktu itu masih sepi.

Memang tak bisa dikatakan bahwa gara-gara memelihara keris lantas nasibnya berubah baik. Hanya saja, kebetulan setelah ia mengoleksi keris, perjalanan hidup Martono membaik. Sekali lagi, itu sebuah kebetulan.

Lebih dramatis lagi, Martono pernah mengalami kecelakaan yang nyaris merenggut nyawa. Sekitar tahun 1996, Martono dan istri tengah berkendara melalui jalan yang terkenal berbahaya, kawasan Alas Roban menjelang Semarang. "Waktu itu, saya membawa puluhan keris di mobil. Semuanya kotor, mau saya cucikan (diwarangi) di Surabaya," tuturnya.

Di tengah kelak-kelok dan naik turun jalan pada malam hari, mobil yang dikendarainya "melintir" dan berpusing lima kali. Beruntung, di jalanan tidak berseliweran bus-bus atau truk-truk seperti umumnya terjadi sehari-hari di lokasi itu. Ini benar-benar tak lazim. Mobil pun terhenti di pinggir jalan, semua penumpangnya selamat. "Kami semua tak mengalami cedera," tutur Martono.

Lagi-lagi, sebuah kebetulan yang menguntungkan. Apakah itu gara-gara keris di mobilnya? "Itu campur tangan Tuhan," ujar Martono setiap kali dia mengalami peristiwa kebetulan yang menguntungkan seperti itu. Pengalaman berbeda

Lain Martono, berbeda pula pengalaman pribadi Toni Junus, rekan Martono di komunitas keris di Jakarta, Panji Nusantara. Toni mengaku selain melestarikan budaya, ia juga "memproduksi keris, dan terus laku." Tak heran, karena Toni Junus yang juga Sekjen Panji Nusantara ini memang lulusan Akademi Seni Rupa (ASRI) Yogyakarta.

Selain sering mendesain keris-keris garap baru-garap "zaman kamardikan" (zaman kemerdekaan), istilah Toni -ia juga sering meminta empu-empu pembuat keris dari Madura untuk membuatkan bahan besi lipatan untuk keris, sebelum dilakukan finishing di Jakarta. Demikian pula Soegeng Prasetyo dan Sukamto, rekan sekomunitas Martono di Panji Nusantara. Mereka berdua kini memiliki ratusan bilah keriskarena minat untuk melestari- kan budaya bangsa dari kepunahan.

Lain pula pengalaman Budi Prasetyo dari komunitas Pametri Wiji, Yogyakarta. "Selain melestarikan warisan orangtua, kebetulan saya juga masih memakai keris dalam keseharian. Saya harus pakai keris jika sowan ke keraton," ungkap Budi Prasetyo yang juga abdi dalem Keraton Yogyakarta.

Di keraton Yogya, Budi adalah abdi dalem kaprajan (keprajaan, abdi dalem keraton yang bekerja sebagai pegawai negeri) bergelar Raden Riyo Wasesa Brata. Oleh karena itulah, keris bagi Budi tak sekadar kesenangan atau klangenan seperti halnya kolektor-kolektor di Jakarta. Keris juga bagian hidup sehari-harinya, meski tak setiap hari keris harus disengkelit seperti layaknya handphone bagi manusia modern saat ini.

"Keris masih dipakai untuk adat kami, adat Lombok. Di samping saya memang suka dengan keindahan bilah-bilah keris Lombok," tutur Alwi Moerad, anggota komunitas keris Persaudaraan Gerantim Lombok. Gerantim adalah nama pegangan keris khas Lombok yang serupa anyam- anyaman. Sepintas, keris Lombok hampir sama dengan keris-keris dari Bali.

"Gerantim mulai dipakai di Lombok sejak Anak Agung menjadi raja di Lombok sekitar abad ke-16. Itulah ciri khas keris kami," ungkap Alwi yang memiliki sekitar 800-an keris lama asli Lombok. "Pak Lalu Djelenga (Ketua Umum Gerantim Lombok) malah punya ribuan keris Lombok," ungkap Alwi Moerad yang sehari-hari adalah bendahara komunitas tersebut.

Jadilah keris-keris koleksi Alwi Moerad dan Lalu Djelenga di Lombok ditempatkan di sebuah tempat khusus, layaknya museum kecil milik keluarga....

(Jimmy S Harianto, atau Ganjawulung adalah wartawan Kompas)

Tidak ada komentar: