Rabu, 19 November 2008

Pameran Keris Nusantara 2006 (1)

P U S A T I N F O R M A S I K O M P A S
Palmerah Selatan 26 - 28 Jakarta 10270
Telp. 5347710, 5347720, 5347730, 5302200 Fax. 5347743
===========================================
KOMPAS, Selasa, 13-06-2006. Halaman: 14

Pameran Keris Nusantara (1)
PAMOR KERIS DI GAMELAN HAJAR

Oleh Jimmy S Harianto

Lebih dari 200 keris-juga senjata-senjata tradisional lain yang menggunakan teknologi tempa, seperti tombak dan pedang -dipamerkan di Bentara Budaya Jakarta (BBJ), 14-23 Juni 2006. Pameran juga menghadirkan karya-karya kontemporer. Menyambut peristiwa"unik" tersebut, subrubrik Humaniora-Terawang sengaja menurunkan seri tulisan sekitar masalah perkerisan Nusantara. Pameran dibuka Rabu(14/6) malam untuk kalangan terbatas, sedangkan pameran untuk umum baru dibuka esok harinya.

Sepintas, seperangkat gamelan yang menghiasi ruang tamu Marc Peeters -warga Jagakarsa, Jakarta Selatan, yang asli Belgia itu- seperti perangkat gamelan Jawa biasa. Ada sebuah instrumen slenthem, kempul, bonang horizontal, gender, gender panerus, rebab, kendang, dan cemplung (sitar). Akan tetapi, kalau lebih dicermati lagi, ternyata bilah-bilah instrumen gamelan itu berpamor. Seperti pamor pada bilah keris.

Di sudut lain, di atas ruang tamu Marc Peeters yang nyaris semuanya serba dari kayu itu, juga terpampang sebuah patung kayu berpamor. Ada juga sebuah wayang dari logam berpamor, gunungan wayang (gaya modern) berpamor, dan bahkan pegangan pintu rumah pun berpamor...

"Semuanya kreasi Hajar Satoto, saudara kembar saya duapuluh tahun silam," ungkap Marc Peeters, yang mengaku "kembaran" perupa dan juga penari asal Solo, karena keduanya sama-sama lahir pada 27 Maret 1951.

Gamelan pamor -yang dipamerkan di Bentara Budaya Jakarta dalam rangka Pameran Keris Nusantara 2006 dari 14-23 Juni tersebut-kini jadi koleksi unik Marc Peeters, yang semula mengaku ia penggemar kayu-kayuan. Meski demikian, gamelan pamor yang bisa dimainkan seperti layaknya gamelan-gamelan normal dari kuningan ini, bukan satu-satunya kreasi Hajar Satoto.

"Gamelan ini ada kembarannya, di Keraton Solo," tutur Marc Peeters. Suatu ketika, memperingati ulang tahun Sinuwun (mendiang raja Solo, Paku Buwono XII) yang ke-80, Hajar yang juga adik kandung penari terkenal, Retno Maruti, ini mempersembahkan seperangkat gamelan berpamor kreasinya.

Menurut Hajar Satoto, kebetulan empu penggarap gamelan-gamelannya (Satiman asal Bekonang, Sukoharjo, Solo) adalah memang pembikin gamelan, yang sering pula membikin bilah keris. Maka, meski melalui berbagai kesulitan, Satiman dan kawan-kawan mampu membikinkan Hajar Satoto, perangkat-perangkat gamelan berpamor, tanpa mempergunakan sambungan pakai alat las. Sama teknologinya, jika empu menempa besi pamor untuk bilah-bilah keris.

Hajar Satoto dan Satiman, juga pernah membuatkan pesanan gong pamor, gong gantung yang besar untuk Bandar Udara Ngurah Rai. Dan gong ini, menurut Hajar Satoto, kini tersimpan di Hotel Orchid di kawasan Nusa Dua, Bali.

Hajar Satoto mengaku, ia melakukan berbagai kreasi dengan besi-besi pamor, lantaran melihat betapa keris pada saat itu (tahun 1980-an) sudah mandek. "Padahal teknologi pamor sebenarnya tidak hanya untuk pembikinan senjata (tajam) saja. Demikian pula gamelan. Dari sejak zaman Kediri Kahuripan sampai saat ini, tak pernah ada inovasi pada fisik gamelan," ujar Hajar Satoto pula, yang di kalangan para pembikin keris, jugadikenal sering memesan kreasi keris yang aneh-aneh.

"Pembuatan keris mandek karena fungsi keris sudah berubah. Jika dulu keris itu fungsional (dipakai sebagai senjata pada masanya, atau ageman ksatria), maka kini keris tak lebih hanyalah sebagai kelengkapan pakaian adat Jawa. Dalam berbagai hal, keris yang sebenarnya merupakan salah satu identitas budaya Nusantara ini, sudah tidak dipakai lagi.

Justru negeri tetangga, seperti Singapura (maskapai penerbangan Singapore Airlines), memakai keris sebagai salah satu identitas mereka. Semisal, ruang VIP maskapai ini mereka sebut Kris Lounge, atau fasilitas layanan bagi para penumpang yang selalu pakai Singapore Airlines sebagai KrisFlyer. Kris Magazine adalah majalah mereka di pesawat, dan Kris Shop adalah layanan mereka bagi penumpang yang ingin membeli suvenir selama perjalanan mereka bersama Singapore Airlines (SIA).

Di negeri Jiran Malaysia, keris masih dipakai sebagai simbol jika pemimpin mereka Raja Diraja Malaysia naik takhta. Juga dalam berbagai seremoni Malaysia, keris masih difungsikan. Di Brunei, seni kriya keris bahkan dibiayai negara.

Sementara, di negeri merdeka seperti Indonesia, bahkan pedang-pedang komando militer kita pun bikinan Eropa. Padahal, pedang komando berpamor, sangat mungkin dibikin penempa-penempa kita sendiri. (Di pameran ini juga dipertontonkan, bagaimana penggemar pisau lulusan ITB Bandung, Shukri Bay, atau pembuat keris yang juga dosen keris Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Solo, Yohannes Yantono, bisa menghasilkan pisau-pisau barat berpamor.

Maka, jangan heran ada bowie pamor, kukri pamor, dan bahkan senjata tusuk terkenal militer Inggris, Fairbairn and Sykes, maupun pisau tradisional Jepang, Katana dan Tanto bikinan pembuat keris, Daliman dkk dari Solo atau pembuat keris Aengtongtong (Madura) dengan motif pamor di bilahnya...

Gus Im, panggilan akrab adik mantan Presiden RI Gus Dur, Hashim Wahid, juga berkreasi dengan tempa pamor. Tak jarang, kiai yang suka musik-musik metal ini memesan kreasi senjata-senjata tajam berpamornya di Madura.

"Untuk meningkatkan apresiasi kita terhadap keris, semestinya kita bisa membuat benda-benda sehari-hari berpamor. Seperti misal, gantungan kunci pamor, yang terjangkau masyarakat banyak," kata Gus Im. Gus Im juga rajin menelusuri perkembangan pamor di dunia, yang bisa dipantau melalui dunia maya. Tak jarang, Gus Im memesan batang-batang besi berpamor lantakan yang biasa dipakai kalangan penggemar knife untuk membikin bilah-bilah pisau, melalui internet.

"Perkembangan pamor di dunia sungguh mengejutkan. Ada berbagai pamor, yang mereka buat secara machinal (pakai mesin), yang sulit rasanya ditiru penempa-penempa kita," ujar Gus Im. Di antara bilah-bilah pisau yang digarapnya, ada bilah pisau dari bahan besi pamor asal Skandinavia, Italia, Amerika, dan juga India. Besi lantakan berpamor dari India, bahkan ada yang dibuat secara manual. Dan dijual melalui internet ke seluruh dunia.

"Harganya sekitar 150-an dollar AS (hampir Rp 1,5 jutaan)." tutur Gus Im pula. Di antara koleksi pisau kreasi Gus Im, hasil garapan perupa-perupa bilah keris Jakarta seperti Kuswanto (dengan bahan besi pamor impor), muncul pisau-pisau lipat berpamor mengejutkan: seperti bunga-bunga renda.

Untuk pengembangan teknologi pamor, menurut Gus Im, saat ini Indonesia memang ketinggalan jika dibandingkan dengan negeri-negeri maju seperti Amerika, dan bahkan sesama negara Asia, seperti India.

Akan tetapi, ketidak-teraturan pola pamor manual yang selama ini dikembangkan para pembuat keris kita, bisa jadi malah merupakan kelebihan. Pola pamor machinal yang rapi teratur seperti yang banyak dikembangkan para Master Blacksmith di Amerika maupun Eropa, terlalu rapi sehingga terkadang tidak menghasilkan pola-pola tak terduga. Justru ketidak-teraturan dan ketidak-rapian pola pamor manual empu-empu pembuat keris kita, bisa menghasilkan keindahan tak terduga.

Soal kreasi pamor luar negeri, menurut Hajar Satoto, sebenarnya sudah terdapat di masa lalu. Di antara koleksi senjata-senjata tajam berpamor milik Keraton Surakarta misalnya, yang tersimpan di Gedhong Pusaka, sempat ia dapati pedang pamor bikinan Breda, Eropa.

"Sinuwun Paku Buwono X, dulu pernah memesan ke Breda, pedang-pedang dari baja putih dengan pamor-pamor baja abu-abu. Rapi sekali. Ada juga, pamor udan mas, yang seperti (motif kartu) domino," kata Hajar Satoto pula.

Akan tetapi, jika melihat koleksi-koleksi lama senjata-senjata berpamor kita, sebenarnya ketidak-teraturan di dalam pamor, justru bisa memancing daya tarik sendiri. Dalam pamor beras wutah, atau wos wutah (beras tertumpah) misalnya, bisa tiba-tiba muncul berbagai gambar yang multitafsir. Rajagundala, misalnya. Motif tak sengaja, yang muncul dari pamor manual yang berupa seolah gambaran makhluk (manusia) di pamor, malah membuat keindahan tersendiri dari pamor-pamor manual yang biasa dipakai pada bilah-bilah pedang, keris maupun tombak kita.

Belum lagi bentuk unik berbagai bilah keris atau tombak, yang khas dan orisinal ciptaan empu-empu kita. Itu merupakan keunikan yang masih sulit tertandingi....

(Jimmy S Harianto, atau Ganjawulung adalah wartawan Kompas)

2 komentar:

mey saiseikai mengatakan...

Hajar Satoto,karya nya begitu melegenda dan patut di acungi jempol.sebagai anak saya bangga dengan hasil karya Bp.dan semoga dalam sakit yg berkepanjangan ini,Bp di beri kekuatan dan kesabaran dlm menghadapi semua cobaan dr yg di Atas.Odaijini y pak.....
Salam dari negeri Sakura,untuk Bp ku Sayang.Mey.

mey saiseikai mengatakan...

im proud with you KRT.Hajar Satoto